Langsung ke konten utama

Pembahasan Bioflok Ikan Nila: Tahapan, Cara, dan Tips.

Sistem budidaya bioflok ikan nila adalah salah satu sistem budidaya yang sering digunakan oleh Pembudidaya Indonesia. Banyak Pembudidaya yang menggunakan sistem budidaya bioflok ikan nila karena sistem ini mampu mengefisiensikan penggunaan pakan, meningkatkan produktivitas budidaya, dan meminimalkan penggunaan air.


Penasaran manfaat lain dari sistem bioflok ikan nila beserta caranya? Simak selengkapnya di artikel ini!

Pengertian Sistem Bioflok

Bioflok berasal dari kata “bios” yang berarti kehidupan, dan “flok” yang berarti gumpalan. Bioflok sendiri adalah salah satu sistem budidaya ikan menggunakan teknik rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme. Sistem bioflok akan menggabungkan senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, kotoran ikan, dan sisa pakan yang nantinya akan membentuk bioflok.

Bioflok terbentuk melalui pengadukan bahan organik di air untuk merangsang perkembangan bakteri heterotrof aerobik. Teknik bioflok ikan nila baru akan bekerja jika kandungan oksigen di dalam air sudah cukup.

Teknik bioflok sudah lama terkenal di kalangan Pembudidaya ikan lele dan ikan nila karena mampu menggenjot produktivitas panen. Teknik bioflok juga dinilai sangat bisa menghemat biaya budidaya karena tidak membutuhkan kolam yang luas dan air yang banyak.

Manfaat dan Keunggulan Sistem Bioflok untuk Budidaya Ikan Nila

Setelah tahu pengertian dan cara kerja sistem bioflok, mari ketahui manfaat dan keunggulan sistem bioflok untuk budidaya ikan nila. Bioflok yang terbentuk dari kumpulan bahan-bahan organik dapat menstabilkan pH air kolam bioflok nila dan menurunkan kadar amonia di air.

Hal ini menguntungkan karena kandungan amonia yang tinggi akan meracuni ikan nila. Jika amonia sudah meracuni ikan nila, kemungkinan ikan untuk bertahan hidup akan menjadi kecil.

Selain itu, sistem bioflok juga bisa meningkatkan Survival Rate (SR) ikan dan memperkecil angka Feed Conversion Ratio (FCR). Karena bioflok dapat mengubah kotoran ikan menjadi pakan ikan.

Bukan tanpa alasan, teknik bioflok disebut sebagai teknik yang sangat menghemat biaya karena padat tebar ikan nila sistem bioflok mencapai 120 ekor/m³ atau 10x lipat dibanding teknik biasa. Artinya, sistem ini bisa menghemat pengeluaran Bapak/Ibu untuk lahan kolam dan air.

Ikan nila yang dibudidayakan dengan teknik bioflok hanya membutuhkan 2-4 bulan untuk panen karena lebih cepat besar. Bapak/Ibu juga tidak perlu terlalu sering mengganti air kolam ikan bioflok karena kotoran ikan akan dimakan oleh bakteri baik yang nantinya akan didaur ulang menjadi pakan. Sangat ramah lingkungan, bukan?

Kelemahan Sistem Bioflok Ikan Nila

Selain kelebihan dan manfaatnya, Bapak/Ibu juga harus memperhatikan kelemahan sistem bioflok untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa merugikan budidaya. Salah satu hal yang menjadi kelemahan sistem bioflok adalah listrik yang harus selalu dihidupkan.

Untuk memperbanyak kandungan oksigen di air, kolam membutuhkan aerator. Ketika aerator berhenti, maka yang ada di air adalah nitrat, bukan oksigen. Hal ini akan mengubah air menjadi asam.

Jika ingin membudidayakan ikan nila dengan teknik bioflok, Bapak/Ibu harus lebih teliti dan tekun dalam mengontrol kadar nitrat, pH, dan jumlah bioflok. Kandungan nitrat yang tinggi dan pH air yang tidak netral akan sangat membahayakan ikan nila.

Teknik bioflok ini tidak bisa dipakai di kolam yang dasarnya tanah karena sifat tanah yang akan mengganggu komposisi bahan bioflok. Kolam tanah juga akan menyerap air sehingga kadar air kolam akan berkurang karena air akan jarang diganti. Jika ingin membudidayakan ikan nila dengan teknik bioflok, Bapak/Ibu bisa menggunakan kolam semen atau terpal.

Cara Budidaya Ikan Nila dengan Sistem Bioflok

Setelah mengetahui apa itu bioflok beserta keunggulan dan kelebihannya, saatnya Bapak/Ibu mengetahui cara budidaya ikan nila bioflok. Perhatikan langkah-langkah berikut!

1. Persiapan Kolam dan Air

Untuk budidaya ikan nila dengan teknik bioflok, sebaiknya Bapak/Ibu menggunakan kolam yang berbentuk bundar. Kolam bundar dinilai lebih bagus untuk kepadatan tebar bibit yang tinggi karena kandungan oksigen di dalam air akan tersebar dengan lebih merata.

Siapkan kolam bundar dengan diameter 3 m dan kedalaman 2 m. Sebelum diisi dengan air, sikat kolam sampai bersih. Endapkan air yang sudah ada di kolam selama 1 malam untuk menguapkan zat berbahaya yang ada.

Setelah itu, pasang sistem aerasi di atas kolam beserta batu-batunya. Posisi batu aerasi harus sesuai agar penyebaran oksigen ke seluruh kolam jadi lebih merata. Hidupkan aliran oksigen dengan kecepatan 10 L/menit.

Jika sistem aerasi sudah terpasang, siapkan garam krosok, kapur dolomit, molase, dan probiotik yang mengandung bakteri Bacillus sp. untuk dilarutkan ke dalam air secara berurutan. Lalu, diamkan kolam selama 7-14 hari sampai dindingnya terasa licin jika dipegang.

Setelah 7-14 hari, Bapak/Ibu bisa memasukkan bibit ikan ke dalam kolam secara perlahan dengan metode aklimatisasi. Aklimatisasi adalah upaya adaptasi ikan terhadap kolam baru yang akan dimasukinya agar dapat bertahan hidup dengan baik. Perlu diingat, kepadatan tebar bibit ikan nila yang menggunakan sistem bioflok bisa mencapai 120 ekor/m³.

Bagaimana cara membuat bioflok nila di atas? Mudah, bukan?

2. Perawatan Kolam dan Air

Ketika siklus budidaya ikan nila dengan sistem bioflok sudah dimulai, lakukan pengecekan pada air dan kolam 2x sehari. Jika Bapak/Ibu menemukan gumpalan dalam jumlah yang sangat banyak dan air menjadi bau, sebaiknya buang setengah air yang ada di kolam dan ganti dengan yang baru. Jika tidak ada gumpalan dan bau di air, Bapak/Ibu tidak perlu mengganti air hingga panen tiba.

Untuk memaksimalkan fotosintesis mikroorganisme di dalam air, letakkan kolam di tempat yang terkena cahaya matahari. Agar lebih aman, berikan atap yang terbuat dari jaring-jaring atau plastik.

Sistem bioflok yang memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan plankton membutuhkan pasokan oksigen lebih besar. Maka dari itu, Bapak/Ibu disarankan untuk menempatkan blower atau kincir di atas kolam. Blower atau kincir harus menyala selama 24 jam penuh.

Jika listrik mati dalam jangka waktu yang lama, ikan nila yang sedang Bapak/Ibu budidayakan bisa lemas dan mati dalam hitungan jam. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan ketika listrik mati, Bapak/Ibu bisa menyiapkan generator agar bisa digunakan ketika dibutuhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nila Nirwana

Nila Nirwana 3 Varietas Cepat Panen FCR Rendah, Tahan Penyakit, Persentase Anakan Jantan Tinggi. Bisnis dan budidaya nila masih terus ada hingga kini. Hal ini membuktikan peluang usahanya ada dan masih terbuka lebar. Peluang usaha ini pun dibarengi dengan peningkatan kualitas jenis nila yang di budidayakan, terutama oleh Balai Pengembangan dan Pemacuan Stock Ikan Nila dan Mas (BPPSINM) Wanayasa, Purwakarta, yakni menghaslikan nila nirwana 3. Masuknya Nila ke Indonesia dan Pengembangannya : Pada tahun 1969, pertma kali ikan nila diintroduksi ke Indonesia yang merukapakan ikan asli perairan di lembah sungai Nil (Afrika). Selanjutnya, ikan tersebut dikenal dengan ikan nila 69. Dan di tahun 1981 Diintroduksi ikan nila merah NIFI dari Filipina. Selanjutnya di tahun 1984 Indonesia kembali mengintroduksi ikan nila hitam Chitralada dari Thailand. Pada tahun 1994 Introduksi dilakukan terhadap ikan nila GIFT generasi ketiga (G3). Tahun 1996 Introduksi ikan nila GIFT kembali dilakukan dengan meng...

Obat herbal Ikan Air Tawar

1. Bawang Putih (Allium sativum) Aplikasi Melalui perendaman untuk penyakit Koi Herpes Virus (KHV), bakteri dan parasit. Bakteri penyakit bercak merah Aeromonas hydrophila pada ikan patin. Virus penyakit KHV pada ikan mas Parasit penyakit gatal, bintik putih pada benih ikan air tawar akibat infeksi parasit Ich dan cacing Trichodina sp. Kandungan aktif Minyak atsiri, allicin 50g/100 ml melalui pakan untuk Aeromonas hydrophila Dosis Efektif 25 mg bawang butih dihaluskan dan dicampur air 1 liter untuk perendaman ikan sakit. Untuk penyakit KHV, sebanyak 30 g dalam 100 ml air untuk perendaman ikan sakit. 2. Ciplukan (Physalis angulata L) Aplikasi Melalui perendaman. Target patogen Bakteri penyebab radang, bengkak dan kemerahan atau borok. Kandungan aktif Asam klorogenat, elaidic acid, physalin. Dosis Efektif Daun dan buahnya direbus (15-30 g) dalam 100 ml air atau kering (5-10 g) dalam 100 ml air, lalu digunakan untuk perendaman. 3. Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Aplikasi Untuk menja...

Bahan Pembetuk Flok Pada Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok

Pembentukan flok pada sistem bioflok dapat ditingkatkan dengan menggunakan bahan-bahan pembentuk flok. Beberapa bahan pembentuk flok yang umum digunakan pada budidaya ikan sistem bioflok antara lain: Kalsium: Kalsium dapat membantu memperkuat struktur flok dan meningkatkan kemampuan flok untuk menangkap partikel organik. Karbon: Karbon sangat penting bagi pertumbuhan bakteri dalam sistem bioflok. Karbon dapat diperoleh dari sumber karbon organik seperti molase atau tepung singkong. Garam: Penambahan garam pada air tambak dapat membantu meningkatkan kepadatan flok dan mengurangi pertumbuhan bakteri patogen. Zeolit: Zeolit adalah mineral alami yang dapat membantu meningkatkan kualitas air dan mengurangi konsentrasi amonia. Chlorella: Chlorella adalah ganggang hijau yang dapat menjadi sumber pakan ikan dan juga dapat membantu mempercepat pertumbuhan bakteri dalam sistem bioflok. Penggunaan bahan pembentuk flok harus disesuaikan dengan kondisi air dan kebutuhan ikan. Penggunaan yang berleb...